Kontroversi e-KTP

         KTP merupakan Kartu Tanda Penduduk yang menunjukkan identitas dan kewarganegaraan seseorang. KTP pertama kali diberikan ketika seseorang berusia 17 tahun dengan masa berlaku 3 atau 5 tahun dan wajib diperpanjang. KTP konvensional terbagi menjadi 2 jenis, yaitu KTP yang wajib diperpanjang dan KTP seumur hidup. KTP seumur hidup diperuntukkan bagi manula dan tidak wajib diperpanjang. Bahkan bagi pengguna KTP seumur hidup, seringkali mendapatkan harga khusus untuk tiket masuk taman hiburan maupun pembelian tiket kereta.

            Setiap warga negara sejatinya hanya memiliki 1 KTP aktif. Namun demikian, pada kenyataannya ada warga negara yang memiliki 2 sampai 3 KTP. Hal ini disebabkan oleh sistem registrasi yang belum terpusat, sehingga untuk nama dan identitas yang serupa dapat teregistrasi berulang di tempat yang berbeda. KTP ganda dapat digunakan untuk berbagai kecurangan, seperti: menyembunyikan identitas, menyembunyikan tindak kejahatan, pemalsuan identitas, dan pembuatan paspor dengan identitas palsu. Dalam menanggulangi masalah yang ditimbulkan oleh KTP konvensional, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri mencanangkan program e-KTP.

            e-KTP merupakan Kartu Tanda Penduduk yang dibuat secara komputerisasi dengan penambahan sebuah chip. e-KTP dapat dikategorikan sebagai kartu cerdas. Chip pada e-KTP menampung berbagai informasi seperti: identitas diri, foto digital, tanda tangan digital, dan sidik jari. Perekaman sidik jari dilakukan sebagai otentikasi unik dari setiap individu. Setiap individu memiliki sidik jari yang berbeda, e-KTP diyakini memiliki keamanan yang dapat menjamin keutuhan data. Dengan adanya e-KTP, penduduk hanya diperkenankan memiliki 1 KTP. Setiap warna negara akan mempunyai Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang merupakan identitas unik.

            Kegunaan e-KTP tidak hanya untuk registrasi identitas terpusat, tetapi NIK yang terdapat di e-KTP nantinya akan menjadi dasar pembuatan kartu ataupun dokumen lainnya, seperti: Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), paspor, dll. Pendaftaran pembuatan e-KTP telah berlangsung dan kini sedang tahap pencetakan e-KTP. Beberapa warga negara bahkan telah menerima e-KTP.

            e-KTP memiliki berbagai keunggulan, diantaranya:

  1. Setiap warga negara hanya akan mempunyai 1 e-KTP. Hal ini dapat menghindari berbagai kecurangan.
  2. Kemudahan bagi aparat untuk melacak keberadaan Target Operasi;
  3. Kemudahan untuk identifikasi seseorang;
  4. Tidak dapat digandakan karena mempunyai NIK yang unik;
  5. Tidak dapat dipalsukan karena terdapat sidik jari;
  6. Dapat dipakai sebagai kartu suara dalam pemilihan umum. Warga negara cukup membawa e-KTP saja dan dapat menyoblos di lokasi manapun. Hal ini tentunya memudahkan pendatang yang kemungkinan kesulitan untuk hadir di kota/kabupaten e-KTP dibuat.
  7. Data kependudukan yang lebih akurat;
  8. Berlaku secara nasional

Selain berbagai keunggulan tersebut, e-KTP juga memiliki kekurangan. Seperti yang tertuang dalam Surat Edaran Mendagri bahwa pemegang e-KTP tidak boleh terlalu sering memfotokopinya. Hal ini dapat menyebabkan chip pada e-KTP rusak karena laser mesin fotokopi. Menjawab surat edaran tersebut, perlunya penyediaan pembaca kartu bagi setiap instansi ataupun lembaga yang memerlukan e-KTP sebagai registrasi. Selain tidak boleh terlalu sering difotokopi, e-KTP juga tidak boleh di staples, dijepit, ataupun di laminating.

Surat edaran tersebut telah membuat khalayak ramai. Hal ini disebabkan sudah terbiasanya masyarakat dengan KTP yang di fotokopi dan belum semua instansi/lembaga menyediakan pembaca kartu. Edaran ini dinilai lambat karena sebagian masyarakat sudah memiliki e-KTP dan besar kemungkinan sudah memfotokopinya untuk berbagai keperluan. Implementasi tanpa perencanaan yang matang akan berbuah suatu kontroversi. Belum ada prosedur yang jelas tentang tata cara penggantian e-KTP apabila rusak. Apakah bisa langsung datang ke kelurahan setempat atau harus mengeluarkan biaya administrasi lagi. Jangan sampai negara ini menjadi negara yang UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Surat edaran ini pada akhirnya membuat Dewan Perwakilan Daerah (DPD) harus memanggil Menteri Dalam Negeri (Mendagri) terkait kualitas chip pada e-KTP.

Melalui Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, dijelaskan bahwa pelarangan fotokopi e-KTP hanya berlaku untuk lembaga/instansi dan bukan untuk masyarakat. Pelarangan ini bertujuan untuk menghindari kerusakan chip dalam jangka waktu yang panjang, sebagai imbas dari masa berlaku e-KTP yang akan dicanangkan seumur hidup. Fotokopi e-KTP juga rentan dipalsukan karena hanya sebuah fotokopi belaka. Untuk menunjang ketentuan tersebut, instansi/lembaga wajib membeli pembaca kartu, entah dengan uang perusahaan atau dengan bantuan pemerintah. Hal tersebut tidak ditetapkan dalam ketentuan.

LIPI sebagai lembaga penelitian telah melakukan uji coba e-KTP. Dari hasil uji coba tersebut, setidaknya dapat diambil kesimpulan bahwa e-KTP tidak masalah bila difotokopi, karena tidak akan merusak chip. Uji coba dilakukan dengan paparan sinar cahaya berdaya tinggi. Hal tersebut setidaknya melegakan masyarakat. Namun demikian, e-KTP tidak boleh dilipat, distaples, atau ditindih benda berat yang dapat merusak bentuk fisik dan chip e-KTP.

Hal yang perlu diperhatikan oleh Kemendagri saat ini adalah keamanan dan prosedur e-KTP. Chip yang ada memang diyakini telah dilengkapi dengan algoritma kriptografi yang memadai. Namun tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti algoritma ini dapat terpecahkan. Selain hal tersebut, Kemendagri juga perlu membuat prosedur e-KTP, baik itu pembuatan, penggantian, maupun pengubahan data e-KTP. Apabila nantinya ada prosedur e-KTP, maka prosedur tersebut perlu disosialisasikan. Kontroversi akan selalu ada, meskipun pencanangan suatu program telah terencana dengan baik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s